Kamis, 13 Juni 2013

Makalah Antropometri


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Antropometri artinya ukuran dari tubuh. Antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Kini, antropometri berperan penting dalam bidang perancangan industri, perancangan pakaian, ergonomik, dan arsitektur. Dalam bidang-bidang tersebut, data statistik tentang distribusi dimensi tubuh dari suatu populasi diperlukan untuk menghasilkan produk yang optimal. Perubahan dalam gaya kehidupan sehari-hari, nutrisi, dan komposisi etnis dari masyarakat dapat membuat perubahan dalam distribusi ukuran tubuh (misalnya dalam bentuk epidemik kegemukan), dan membuat perlunya penyesuaian berkala dari koleksi data antropometrik.
PSG dengan metode antropometri adalah menjadikan ukuran tubuh manusia sebagai alat menentukan status gizi manusia. Konsep dasar yang harus dipahami dalam menggunakan antropometri secara antropometri adalah Konsep Dasar Pertumbuhan.
Pertumbuhan secara gamblang dapat diartikan terjadinya perubahan sel tubuh dalam 2 bantuk yaitu:
1.      Pertambahan sel dan
2.      pembelahan sel, yang secara akumulasi perjadinya perubahan ukuran tubuh.
Jadi pada dasarnya menilai status gizi dengan metode antropometri adalah menilai pertumbuhan. Hanya saja pertumbuhan dalam pengertian pertambahan sel memiliki batas waktu tertentu. Para pakar antropometri sepakat bawah pada umumnya pertumbuhan manusia dalam arti pertambahan sel akan berhenti pada usia 18-20 tahun, walaupun masih ditemukan sebelum 18 pertumbuhan sudah berhenti, dan sebaliknya setelah 20 tahun masih ada kemungkinan pertumbuhan masih berjalan.
  
B.     Rumusan Masalah
  1. Apa konsep pertumbuhan sebagai dasar antropometri?
  2. Apa keunggulan dan kelemahan antropometri?
  3. Apa saja indeks antropometri?
  4. Bagaimana pengendalian kualitas data antropometri?
  5. Bagaimana penggunaan indeks antropometri gizi?
C.    Tujuan
Tujuan pembuatan makalah adalah untuk menjawab semua pertanyaan yang ada dalam rumusan masalah untuk dipelajari dan dipahami, serta untuk memenuhi tugas mata kuliah Penilain Status Gizi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Pertumbuhan Sebagai Dasar Antropometri
  1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
a.       Pertumbuhan
Pertumbuhan dalam kehidupan manusia dimulai sejak janin dalam kandungan berlanjut pada  masa bayi, kanak-kanak dan pada masa remaja kemudian berakhir pada masa dewasa.  Pertumbuhan merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan mengikuti perjalanan waktu. Selama pertumbuhan terjadi perubahan ukuran fisik. Ukuran fisik tidak lain adalah ukuran tubuh manusia baik dari segi dimensi, proporsi maupun komposisinya. Ukuran fisik manusia dapat diukur.  llmu yang mempelajari ukuran fisik pada bagian tubuh tertentu  dikenal dengan sebutan antropometri.
Pola  pertumbuhan dibatasi oleh dua hal yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan seperti intake zat gizi, infeksi penyakit, sanitasi lingkungan, pelayanan kesehatan dll). Pengukuran pertumbuhan secara antropometri akan berkait dengan umur yang nantinya akan dipadukan dengan ukuran: berat badan, panjang badan, lingkar kepala, lemak di bawah kulit dan lingkar lengan atas. Berat badan untuk umur (BB/U) merupakan indikator yang mendasar dan absah untuk penentuan keadaan gizi , terutama gizi kurang. Panjang badan untuk umur (PB/U) untuk mengukur riwayat kekurangan gizi di masa lampau. Berat badan untuk panjang badan (BB/PB) merupakan indikator yang kuat untuk menentukan akibat gizi salah akut dan masa penyembuhannya.
Pertumbuhan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: kelenjar yang menghasilkan hormon pertumbuhan , penyakit, keturunan, emosi, system syaraf, musim dan iklim, gizi, seluler, social ekonomi. Faktor ras dapat mempengaruhi  densitas tulang. Ras Afrika memiliki densitas tulang yang tinggi, sehingga perbedaan ras memiliki hubungan yang penting pada osteoporosis.


b.      Perkembangan
Definisi perkembangan menurut Sinclair, D (1973) meliputi parameter psikologi, idea dan pemahaman dan perolehan skill motorik dan sensory.  Hurlock, B (1980) dalam psikologi perkembangan menganggap penting dasar permulaan merupakan sikap kritis karena dasar permulaan merupakan atau mengarah kepada penyesuaian diri pribadi atau sosial bila sudah tua. Banyak para ahli psikologi memandang tahun pra sekolah merupakan tahapan penting atau kritis dimana mulai diletakkan dasar struktural perilaku komplek yang dibentuk dalam kehidupan.
Perkembangan  juga seperti pertumbuhan mengikuti  suatu pola spesifik dan dapat diramalkan mengikuti hukum arah perkembangan yang disebut hukum cephalocaudal yang  menjelaskan bahwa perkembangan menyebar keseluruh tubuh dari kepala ke kaki dan hukum proximodistal yang menentapkan bahwa perkembangan menyebar keluar dari titik poros sentral ke anggota tubuh. Perkembangan akan mengikuti pola yang berlaku umum jika kondisi lingkungan mendukung.  Setiap tahapan perkembangan mempunyai perilaku karakteristik.  Perkembangan sangat dibantu rangsangan. Setiap tahapan mempunyai resiko.  Perkembangan terjadi karena kematangan  dan pengalaman dari lingkungan serta  perkembangan dipengaruhi oleh budaya. Namun disadari tahap perkembangan anak berbeda seperti yang dikemukakan oleh beberapa pakar.
Pola perkembangan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, fisik dan psikis yang menimbulkan perbedaan tampilan dari setiap anak.  Perkembangan mencakup rangsangan yang diberikan  kepada anak  dan umumnya pencapaian perkembangan optimal tergantung rangsangan (stimuli)  dari luar dan umumnya anak mencapai perkembangan tertentu pada umur yang lebih tinggi. Perkembangan mengikuti jalur pertumbuhan dan memiliki pola sesuai dengan umur dan taraf perkembangan. Apabila beberapa taraf perkembangan tidak dicapai oleh anak pada umur batas anak, maka perlu dicurigai bahwa anak-anak mengalami kelambatan perkembangan dan perlu dikonsultasikan kepada ahlinya. Dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat dipindahkan dan harus  berjalan beriringan. Misalkan perkembangan kepala terjadi sangat cepat khususnya pada tahun pertama umur bayi, karena otak berkembang sangat pesat.  Perkembangan kepandaian bayi terutama tergantung pada berfungsinya otak dan sistem syaraf serta rangsangan yang diterima anak. Waktu dilahirkan bayi hanya dapat melakukan sesuatu terbatas  untuk dirinya, tetapi kemudian secara teratur semakin berkembang sampai mampu mengontrol tubuhnya dan melakukan  pekerjaan khusus. Tingkatan (fase-fase) perkembangan kemampuan anak menurut umur perlu diketahui untuk dapat dipakai sebagai indikator perkembangan kepandaian anak.
  1. Factor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
a.       Faktor Internal (Genetik)
Gen yang terdapat di dalam nukleus dari telur yang dibuahi pada masa embrio mempunyai sifat tersendiri pada tiap individu. Manifestasi hasil perbedaan antara gen ini dikenal sebagai hereditas. DNA yang membentuk gen mempunyai peranan penting dalam transmisi sifat-sifat herediter. Timbulnya kelainan familial, kelainan khusus tertentu, tipe tertentu dari dwarfism adalah akibat transmisi gen yang abnormal. Haruslah diingat bahwa beberapa anak bertubuh kecil karena konstitusi genetiknya dan bukan karena gangguan endokrin atau gizi. Peranan genetik pada sifat perkembangan mental masih merupakan hal yang diperdebatkan. Memang hereditas tidak dapat disangsikan lagi mempunyai peranan yang besar tapi pengaruh lingkungan terhadap organisme tersebut tidak dapat diabaikan. Pada saat sekarang para ahli psikologi anak berpendapat bahwa hereditas lebih banyak mempengaruhi inteligensi dibandingkan dengan lingkungan. Sifat-sifat emosionil seperti perasaan takut, kemauan dan temperamen lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan dibandingkan dengan hereditas.
1)      Jenis kelamin. Pada umur tertentu pria dan wanita sangat berbeda dalam ukuran besar, kecepatan tumbuh, proporsi jasmani dan lain-lainnya sehingga memerlukan ukuran-ukuran normal tersendiri. Wanita menjadi dewasa lebih dini, yaitu mulai adolesensi pada umur 10 tahun, sedangkan pria mulai pada umur 12 tahun.
2)      Ras atau bangsa. Oleh beberapa ahli antropologi disebutkan bahwa ras kuning mempunyai hereditas lebih pendek dibandingkan dengan ras kulit putih. Perbedaan antar bangsa tampak juga bila kita bandingkan orang Skandinavia yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang Itali.
3)      Keluarga. Tidak jarang dijumpai dalam suatu keluarga terdapat anggota keluarga yang pendek sedangkan anggota keluarga lainnya tinggi.
4)      Umur. Kecepatan tumbuh yang paling besar ditemukan pada masa fetus, masa bayi dan masa adolesensi.
b.      Faktor Eksternal (Lingkungan)
1)      Gizi (defisiensi vitamin, iodium dan lain-lain). Dengan menghilangkan vitamin tertentu dari dalam makanan binatang yang sedang hamil, Warkany menemukan kelainan pada anak binatang tersebut. Jenis kelainan tersebut dapat diduga sebelumnya dengan menghilangkan vitamin tertentu. Telah dibuktikan pula bahwa kurang makanan selama kehamilan dapat meningkatkan angka kelahiran mati dan kematian neonatal. Diketahui pula bahwa pada ibu dengan keadaan gizi yang jelek tidak dapat terjadi konsepsi. Hal ini disinggung pula oleh Warkany dengan mengatakan The most serious congenital malformation is never to be conceived at all.
2)      Mekanis (pita amniotik, ektopia, posisi fetus yang abnormal, trauma, oligohidrmnion). Faktor mekanis seperti posisi fetus yang abnormal dan oligohidramnion dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti clubfoot, mikrognatia dan kaki bengkok. Kelainan ini tidak terlalu berat karena mungkin terjadi pada masa kehidupan intrauterin akhir. Implantasi ovum yang salah, yang juga dianggap faktor mekanis dapat mengganggu gizi embrio dan berakibat gangguan pertumbuhan.
3)      Toksin kimia (propiltiourasil, aminopterin, obat kontrasepsi dan lain-lain). Telah lama diketahui bahwa obat-obatan tersebut dapat menimbulkan kelainan seperti misalnya palatoskizis, hidrosefalus, disostosis kranial.
4)      Bayi yang lahir dari ibu yang menderita diabetes melitus sering menunjukkan kelainan berupa makrosomia, kardiomegali dan hiperplasia adrenal. Hiperplasia pulau Langerhans akan mengakibatkan hipoglikemia. Umur rata-rata ibu yang melahirkan anak mongoloid dan kelainan lain umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan umur ibu yang melahirkan anak normal. Ini mungkin disebabkan oleh kelainan beberapa endrokin dalam tubuh ibu yang meningkat pada umur lanjut, walaupun faktor lain yang bukan endokrin juga ikut berperan.
5)      Radiasi (sinar Rontgen, radium dan lain-lain). Pemakaian radium dan sinar Rontgen yang tidak mengikuti aturan dapat mengakibatkan kelainan pada fetus. Contoh kelainan yang pernah dilaporkan ialah mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak. Kelainan yang ditemukan akibat radiasi bom atom di Hiroshima pada fetus ialah mikrosefali, retardasi mental, kelainan kongenital mata dan jantung.
6)      Infeksi (trimester I: rubela dan mungkin penyakit lain, trimester II dan berikutnya: toksoplasmosis, histoplasmosis, sifilis dan lain-lain). Rubela (German measles) dan mungkin pula infeksi virus atau bakteri lainnya yang diderita oleh ibu pada waktu hamil muda dapat mengakibatkan kelainan pada fetus seperti katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan kongenital jantung. Lues kongenital merupakan contoh infeksi yang dapat menyerang fetus intrauterin sehingga terjadi gangguan pertumbuhan fisis dan mental. Toksoplasmosis pranatal dapat mengakibatkan makrosefali kongenital atau mikrosefali dan renitinitis.
7)      Imunitas (eritroblastosis fetalis, kernicterus). Keadaan ini timbul atas dasar adanya perbedaan golongan darah antara fetus dan ibu, sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah bayi yang kemudian melalui plasenta masuk ke dalam peredaran darah bayi yang akan mengakibatkan hemolisis. Akibat penghancuran sel darah merah bayi akan timbul anemia dan hiperbilirubinemia. Jaringan otak sangat peka terhadap hiperbilirubinemia ini dan dapat terjadi kerusakan.
8)      Anoksia embrio (gangguan fungsi plasenta) Keadaan anoksia pada embrio dapat mengakibatkan pertumbuhannya terganggu.
B.     Keunggulan dan Kelemahan Antropometri
  1. Pengertian Antropometri
Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Antropometri artinya ukuran dari tubuh. Antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
  1. Keunggulan Antropometri
Beberapa syarat yang mendasari penggunaan antropometri adalah:
a.       Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar lengan atas, mikrotoa, dan alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat sendiri dirumah.
b.      Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif
c.       Pengukuran bukan hanya dilakukan dengan tenaga khusus profesional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu.
d.      Biaya relatif murah
e.       Hasilnya mudah disimpulkan karena mempunyai ambang batas.
f.       Secara alamiah diakui kebenaranya.
Keunggulan Antropometri gizi:
a.       Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar
b.      Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli
c.       Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan dibuat di daerah setempat
d.      Tepat dan akurat, karena dapat dibakukan
e.       Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa lampau
f.       Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang dan buruk karena sudah ada ambang batas yang jelas
g.      Dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu atau dari satu generasi ke generasi berikutnya
h.      Dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan gizi
  1. Kelemahan Antropometri
a.       Tidak sensitif, artinya tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat serta tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti zink dan Fe
b.      Faktor di luar gizi (penyakit, genetik dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitifitas pengukuran antropometri
c.       Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi dan validitas pengukuran antropometri.

C.    Indeks Antropometri
Tabel 1. Penggolongan Keadaan Gizi Menurut Indeks Antropometri
Status Gizi
Ambang batas baku untuk keadaan gizi berdasarkan indeks
BB/U
TB/U
BB/TB
LLA/U
LLA/TB
Gizi Baik
> 80%
> 85%
> 90%
> 80%
> 85%
Gizi Kurang
61-80%
71-85%
81-90%
71-85%
76-85%
Gizi Buruk
£ 60%
£ 70%
£ 80%
£ 70%
£ 75%
Sumber: Penilaian Status Gizi. I Nyoman Supriasa, dkk. Jakarta: EGC (2002 : 56)
Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu:
  1. Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Mengingat karakteristik berat badan yang labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (Current Nutrirional Status).
  1. Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur.
  1. Berat badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu.
  1. Lingkar Lengan Atas Menurut Umur (LLA/U)
Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas berkolerasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB.


  1. Indeks Massa Tubuh (IMT)
IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa yang berumur diatas 18 tahun khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan. Disamping itu pula IMT tidak bisa diterapkan pada keadaan khusus (penyakit) lainnya, seperti adanya edema, asites dan hepatomegali. Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut:
IMT =                   Berat Badan (kg)              
Tinggi badan (m) x Tinggi Badan (m)
Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO, yang membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Batas ambang normal laki-laki adalah 20,1-25,0 dan untuk perempuan adalah 18,7-23,8.
Tabel 2. Kategori ambang batas IMT untuk Indonesia
Kategori
IMT
Kurus
Kekurangan berat badan tingkat berat
< 17,0
Kekurangan berat badan tingkat ringan
17,1-18,5
Normal
18,6-25,0
Gemuk
Kelebihan berat badan tingkat ringan
25,1-27,0
Kelebihan berat badan tingkat berat
>27,0
Sumber : I Nyoman Supariasa dkk. Jakarta: EGG (2002 : halaman 61)
  1. Tebal Lemak Bawah Kulit Menurut Umur
Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian lengan atas, lengan bawah, di tengah garis ketiak, sisi dada, perut, paha, tempurung lutut, dan pertengahan tungkai bawah.
  1. Rasio Lingkar Pinggang dengan Pinggul
Rasio Lingkar Pinggang dengan Pinggul digunakan untuk melihat perubahan metabolisme yang memberikan gambaran tentang pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak tubuh.


D.    Pengendalian Kualitas Data Antropometri
Untuk mendapatkan data antropometri yang baik harus dilakukan sesuai standar prosedur pengumpulan data antropometri. Tujuan dari prosedur standarisasi adalah memberikan informasi yang cepat dan menunjukkan kesalahan secara tepat sehingga perubahan dapat dilakukan sebelum sumber kesalahan dapat dipastiakan.
  1. Pengertian Presesi dan Akurasi
Akurasi menunjukkan kedekatan hasil pengukuran dengan nilai sesungguhnya. Presisi menunjukkan seberapa dekat perbedaan nilai pada saat dilakukan pengulangan pengukuran.
  1. Kesalahan dalam Pengukuran
Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi. Ada 3 penyebab utama kesalahan yang signifikan yaitu:
a.       Kesalahan pengukuran.
b.      Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan.
c.       Analisis dan asumsi yang keliru.
Sedangkan kesalahan lainnya yang umum terjadi dalam pengukuran antropometri antara lain:
a.       Pada waktu melakukan pengukuran tinggi badan tanpa memperhatikan posisi orang yang diukur, misalnya belakang kepala, punggung, pinggul, dan tumit harus menempel di dinding. Sikapnya harus dalam posisi siap sempurna. Disamping itu pula kesalahan juga terjadi apabila petugas tidak memperhatikan situasi pada saat anak diukur. Contohnya adalah anak menggunakan sandal atau sepatu.
b.      Pada waktu penimbangan berat badan, timbangan belum di titik nol, dacin belum dalam keadaan seimbang dan dacin tidak berdiri tegak lurus.
c.       Kesalahan pada peralatan. Peralatan yang digunakan untuk mengukur berat badan adalah dacin dengan kapasitas 20-25 kg dan ketelitian 0,1 kg. Untuk mengukur panjang badan, alat pengukur panjang badan berkapasitas 110 cm dengan skala 0,1 cm. Tinggi badan dapat diukur dengan mikrotoa berkapasitas 200 cm dengan ketelitian 0,1 cm. Lingkar lengan atas dapat diukur dengan pita LLA yang berkapasitas 33 cm dengan skala 0,1 cm.
d.      Kesalahan yang disebabkan oleh tenaga pengukur. Kesalahan ini dapat terjadi karena petugas pengumpul data kurang hati-hati atau belum mendapat pelatihan yang memadai. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran sering disebut Measurement Error.
  1. Mengatasi Kesalahan Pengukuran
Secara garis besar usaha untuk mengatasi kesalahan pengukuran, baik dalam mengukur sebab dan akibat serta dampak dari suatu tindakan dapat dikelompokan sebagai berikut :
a.       Memilih ukuran yang sesuai dengan apa yang ingin diukur. Misalnya mengukur tinggi badan menggunakan mikrotoa, dan tidak menggunakan alat ukur lain yang bukan diperuntukkan untuk mengukur tinggi badan.
b.      Membuat prosedur baku pengukuran yang harus ditaati oleh seluruh pengumpul data. Petugas pengumpul data harus mengerti tehnik, urutan dan langkah-langkah dalam pengumpulan data.
c.       Pelatihan dan refreshing petugas. Pelatihan petugas harus dilakukan dengan sebaik-baiknya, baik ditinjau dari segi waktu maupun materi pelatihan. Materi pelatihan sebaiknya menekankan pada ketelitian pembacaan dan pencatatan hasil. Mengingat petugas akan melakukan pengukuran, maka dalam pelatihan harus dilakukan praktek terpimpin oleh petugas profesional dalam bidangnya. Apabila memungkinkan dilaksanakan pelatihan secara periodik.
d.      Kalibrasi alat ukur secara berkala. Alat timbang dan alat lainnya harus selalu ditera dalam kurun waktu tertentu. Apabila ada alat yang rusak, sebaiknya tidak digunakan lagi.
e.       Pengukuran silang antar pengamat. Kegiatan ini perlu dilakukan untuk mendapatkan presisi dan akurasi yang baik.
f.       Perekaman hasil langsung setelah pengukuran lalu hasilnya diteliti oleh orang kedua.
4.      Teknik Melakukan Uji Presisi dan Akurasi
a.         Langkah-langkah Perhitungan Data
1)   Hasil dua kali pengukuran disajikan pada kolom a dan b
2)   Pada kolom d disajikan hasil pengukuran (a-b), berikut tanda masing-masing (+/-)
3)   Pada kolom d2  diisikan hasil kuadrat (a-b)
4)   Tanda plus dan minus pada kolom dihitung. Jumlah tanda yang muncul terbanyak menjadi pembilang dari pecahan dengan subyek sebagai penyebut. Tanda nol tidak dihitung.
5)   Pada kolom s dihitung jumlah (a+b)
Kelima langkah ini dilakukan secara serentak oleh semua petugas pengukur dan penyelia.
6)   Kolom s lembar penyelia dipindahkan kelembar tiap petugas di bawah kolom S.
7)   Perbedaan kolom s petugas dan S penyelia diisikan kekolom D (s-S) dengan tanda yang tepat, dan kuadratnya pada kolom D2.
8)   Tanda plus dan minus (s-S) dihitung. Jumlah tanda muncul terbanyak menjadi pembilang dari pecahan dengan jumlah subyek menjadi penyebut. Tanda nol tidak dihitung.
9)   Hasil penjumlahan d2 dan D2, serta hasil perhitungan tanda dipindahkan ke lembar lain.
b.         Penilain Hasil
Ketentuan umum berikut ini digunakan dalam menganalisis hasil:
1)   Jumlah d2 penyelia biasanya paling kecil; presisinya paling besar karena kompetensi lebih besar.
2)   Jumlah  d2 petugas (berkaitan dengan presisi) tidak lebih besar dari dua kali jumlah d2 penyelia.
3)   Jumlah D2 petugas (berkaitan dengan akurasi) tidak lebih besar dari tiga kali jumlah d2 penyelia.
4)   Jumlah D2 petugas harus ebih besar dari d2-nya.jika tidak, data tersebut harus diperiksa dan dihitung kembali.
E.     Penggunaan Indeks Antropometri Gizi
            Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Indeks BB/U adalah pengukuran total berat badan termasuk air, lemak, tulang dan otot.Indeks tinggi badan menurut umur adalah pertumbuhan linier dan LLA adalah pengukuran terhadap otot, lemak, dan tulang pada area yang diukur.
            Hasil pengukuran tissue mass seperti berat badan dan lingkar lengan atas dapat berubah relative cepat, naik atau turun, tergantung makanan anak dan status kesehatan. Kedua parameter tersebut, berat badan lebih cepat terpengaruh oleh perbedaan konsumsi makanan daripada LLA. Parameter tinggi badan berubah secara lambat dan perlahan-lahan. Perbedaan tinggi badan dapatdiukur setelah beberapa waktu lamanya.
            Diantara bermacam-macam indeks antropometri, BB/U merupakan indicator yang palingumum digunakan sejak tahun 1972 dan dianjurkan juga menggunakan indeks TB/U dan BB/TB untuk membedakan apakah kekurangan gizi terjadi kronis atau akut. Keadaan gizi kronis atau akut mengandung arti terjadi keadaan gizi yang dihubungkan dengan masa lalu dan waktu sekarang. Pada keadaan kurang gizi kronis, BB/U dan TB/U rendah, tetapi BB/TB normal. Kondisi ini sering disebut dengan stunting.
            Pada tahun 1978, WHO lebih menganjurkan penggunaan BB/TB, karena menghilangkan factor umur yang menurut pengalaman sulit didapat secara benar, khususnya di daerah terpencil dimana terdapat masalah tentang pencatatan kelahiran anak. Indeks BB/TB juga menggambarkan keadaan kurang gizi akut waktu sekarang. Walaupun tidak dapat menggambarkan keadaan giziwaktu lampau. Misalnya dulu pernah menderita kurang gizi kronis, tetapi sekarang sudah baik. Dengan demikian timbul pertanyaan tentang indicator mana yang lebih dapat dipercaya?. Jawabannya tergantung pada tujuan penelitian atau program yang akan mempergunakan data antropometri tersebut. Dari berbagai jenis indeks tersebut diatas, untuk menginter pretasikannya dibutuhkan ambang batas. Penentuan ambang batas diperlukan kesepakatan para ahli gizi. Ambang batas dapat disajikan ke dalam tiga cara yaitu, persen terhadap median, persentil dan standar deviasi unit.
  1. Persen terhadap Median
Median adalah nilai tengah dari suatu populasi. Dalam antropometri gizi, median sama dengan persentil 50. Nilai median dinyatakan sama dengan 100% (untuk standar). Setelah itu dihitung persentase terhadap nilai median untuk mendapatkan ambang batas.
  1. Persentil
Cara lain untuk menentukan ambang batas selain persen terhadap median adalah persentil. Persentil 50 sama dengan Median atau nilai tengah dari jumlah populasi berada diatasnya dan setengahnya berada dibawahnya. NCHS merekomendasikan persentil ke 5 sebagai batas gizi buruk dan kurang, serta persentil 95 sebagai batas gizi lebih dan gizi baik.
  1. Standar Deviasi Unit (SDU)
Standar Deviasi Unit disebut juga Z-skor. WHO menyarankan menggunakan cara ini untuk meneliti dan untuk memantau pertumbuhan.
c.    1 SD unit (1 Z skor) kurang lebih sama dengan 11% dari median BB/U
d.   1 SD unit (1 Z skor) kira-kira 10% dari median BB/TB
e.    1 SD unit (1 Z skor) kira-kira 5% dari median TB/U
Waterlow juga merekomendasikan penggunaan SD untuk menyatakan hasil pengukuran pertumbuhan atau Growth Monitorng. WHO memberikan gambaran perhitungan SD unit terhadap baku NHCS.
Pertumbuhan nasional untuk suatu populasi dinyatakan dalam positif dan negative 2 SD unit (Z-skor) dari median, yang termasuk hampir 98% dari orang-orang yang diukur yang berasal dari referens populasi. Dibawah median -2 SD unit dinyatakan sebagai kurang gizi yang equivalen denga:
a.    78% dari median untuk BB/U (± 3 persentil)
b.    80% median untuk BB/TB
c.    90% median untuk TB/U
Rumus perhitungan Z-skor adalah:
Z-skor =  
Table 4. Klasifikasi Status Gizi berdasrkan BB/TB (Z-skor)
Status Gizi
BB/TB (Z-skor)
Sangat Kurus
< -3 SD
Kurus
< -2 SD
Normal
-2 SD sampai +2 SD
Gemuk
> +2 SD

  1. Kebaikan dan Kelemahan dari Masing-Masing Indeks
Tabel 5. Kebaikan dan Kelemahan Indeks Antropometri
Indeks
Kebaikan
Kelemahan
BB/U
-    Baik untuk mengukur status gizi akut/kronis
-    Berat badan dapat berfluktuasi
-    Sangat sensitive terhadap perubahan-perubahan kecil
-   Umur sering sulit ditaksir secara tepat
TB/U
-     Baik untuk menilai gizi masa lampau
-     Ukuran panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa
-   Tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun
-   Pengukuran relative sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak, sehingga diperlukan 2 orang untuk melakukannya
-   Ketetapan umur sulit
BB/TB
-  Tidak memerlukan data umur
-  Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal, kurus)
-     Membutuhkan 2 macam alat ukur
-     Pengukuran relative lebih lama
-     Membutuhkan 2 orang untuk melakukannya.
LLA/U
-  Indikator yang baik untuk menilai KEP berat
-  Alat ukur murah, sangat ringan, dapat dibuat sendiri
-  Alat dapat diberi kode warna untuk menentukan keadaan gizi, sehingga dapat digunakan oleh orang yang tak dapat baca tulis
-    Hanya dapat mengidentifikasi anak dengan KEP berat
-    Sulit menentukan ambang batas
  
BAB III
KESMPULAN
1.      Antropometri artinya ukuran dari tubuh. Antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
2.      Pertumbuhan didefinisikan sebagai perkembangan yang progresif mahluk hidup sejak dari awal sampai menuju kematangan. Pertumbuhan melibatkan suatu seri perubahan anatomi dan fisiologi. Sel tubuh termasuk sel otak akan mengalami penambahan jumlah (multiplikasi), dan bertambah ukuran.
3.      Pola perkembangan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, fisik dan psikis yang menimbulkan perbedaan tampilan dari setiap anak.  Perkembangan mencakup rangsangan yang diberikan  kepada anak  dan umumnya pencapaian perkembangan optimal tergantung rangsangan (stimuli)  dari luar dan umumnya anak mencapai perkembangan tertentu pada umur yang lebih tinggi. Perkembangan mengikuti jalur pertumbuhan dan memiliki pola sesuai dengan umur dan taraf perkembangan.
4.      Untuk mendapatkan data antropometri yang baik harus dilakukan sesuai standar prosedur pengumpulan data antropometri.
5.      Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template Design By:
SkinCorner